Bahagian 1
Section 1
Pengenalan Surah
Introduction
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ٩
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu," — Asy-Syams 91:9
"He has succeeded who purifies it," — Asy-Syams 91:9
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ١٠
"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." — Asy-Syams 91:10
"And he has failed who instils it [with corruption]." — Asy-Syams 91:10
Surah ini dinamakan 'Ash-Shams' (Matahari) kerana ia bermula dengan sumpah Allah kepada matahari — 'وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا' (Demi matahari dan cahayanya pada waktu dhuha). Walaupun perkataan 'asy-syams' disebut sekali, empat ayat pertama surah ini berkisar tentang matahari melalui kata ganti 'ha' (nya) — menjadikan matahari tema pembuka surah ini.
The surah is named "Ash-Shams" (the Sun) because it opens with Allah's oath by the sun. Although the word "ash-shams" appears once, the first four verses revolve around the sun through the pronoun "ha" (it) — making the sun the opening theme of the surah.
Tema Utama
Main Themes
- ① Ayat 1-10: Sumpah Allah kepada fenomena alam (matahari, bulan, siang, malam, langit, bumi, jiwa) bagi menunjukkan bahawa kejayaan manusia bergantung kepada penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).
- ② Ayat 11-15: Kisah kaum Thamud yang mendustakan Nabi Salih a.s. dan membunuh unta Allah, lalu ditimpa azab yang pedih sebagai peringatan kepada umat manusia.
- ① Verses 1–10: Allah's oaths by natural phenomena (sun, moon, day, night, sky, earth, soul) to show that human success depends on purifying the soul (tazkiyat an-nafs).
- ② Verses 11–15: The story of Thamud who denied the Prophet Salih and killed the she-camel of Allah, and were struck with a painful punishment as a warning to mankind.
Surah Ash-Shams diturunkan pada zaman awal Islam di Makkah, ketika umat Islam menghadapi tentangan keras daripada kaum Quraisy. Allah menurunkan surah ini untuk mengingatkan manusia tentang fitrah jiwa — bahawa setiap insan dilahirkan dalam keadaan suci dan Allah telah mengilhamkan dalam jiwa manusia jalan kefasikan dan ketakwaan. Kejayaan atau kegagalan seseorang bergantung kepada pilihannya sendiri dalam menyucikan atau mengotorkan jiwa tersebut.
Surah Ash-Shams was revealed early in Makkah, when the Muslims faced fierce opposition from the Quraysh, to remind people of the nature of the soul: Allah has inspired in every soul the path of wickedness and of righteousness, and success or failure depends on one's own choice to purify or corrupt it.
| Nama Surah (Arab) | سُورَةُ الشَّمْسِ |
| Makna Nama | Matahari |
| Nombor Surah | 91 |
| Bilangan Ayat | 15 ayat |
| Juzuk | 30 (Juz 'Amma) |
| Jenis Wahyu | Makkiyyah (diturunkan di Makkah) |
| Urutan Turun | Ke-26 mengikut urutan penurunan |
| Nama Lain | Surah Wasy-Syamsi |
| Surah Name (Arabic) | سُورَةُ الشَّمْسِ |
| Meaning | The Sun |
| Surah Number | 91 |
| Total Verses | 15 verses |
| Juz | 30 (Juz 'Amma) |
| Revelation | Makkan (revealed in Makkah) |
| Order of Revelation | 26th in the order of revelation |
| Other Name | Surah Wash-Shamsi |
Bahagian 3
Section 3
Tafsir Tematik
Thematic Commentary
3.1 Rangkaian Sumpah Allah (Ayat 1–7)
3.1 Allah's Chain of Oaths (Verses 1–7)
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ١
"Demi matahari dan cahayanya pada waktu dhuha," — Asy-Syams 91:1
"By the sun and its brightness" — Asy-Syams 91:1
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا ٢
"Dan demi bulan apabila mengiringinya (matahari)," — Asy-Syams 91:2
"And [by] the moon when it follows it" — Asy-Syams 91:2
وَالنَّهَارِ إِذَا جَلَّاهَا ٣
"Dan demi siang apabila menampakkannya (matahari)," — Asy-Syams 91:3
"And [by] the day when it displays it" — Asy-Syams 91:3
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَاهَا ٤
"Dan demi malam apabila menutupinya (matahari)," — Asy-Syams 91:4
"And [by] the night when it covers it" — Asy-Syams 91:4
Allah ﷻ membuka Surah Ash-Shams dengan tujuh sumpah besar kepada fenomena alam yang agung. Inilah rangkaian sumpah berturut-turut yang paling panjang dalam Al-Qur’an, dan ia menunjukkan betapa pentingnya perkara yang akan diumumkan selepasnya.
Allah opens the surah with great oaths by majestic natural phenomena — the longest consecutive chain of oaths in the Qur'an — showing the importance of what is to be declared after it.
- 'Wad-shamsi wa duhaha' — Sumpah kepada matahari dan cahaya duhanya. 'Duha' merujuk kepada cahaya matahari yang terang pada waktu pagi, antara matahari terbit hingga tengah hari. Ini menandakan kesempurnaan ciptaan Allah.
- 'Wal-qamari idha talaha' — Bulan mengikuti matahari dalam putarannya, menerima cahaya daripadanya dan memantulkannya kepada bumi. Ini adalah tanda keselarasan sistem suria ciptaan Allah.
- 'Wan-nahari idha jallaha' — Siang mendedahkan matahari kepada pandangan manusia, membolehkan kehidupan berlangsung.
- 'Wal-laili idha yaghshaha' — Malam menutupi matahari, memberi kesempatan kepada manusia dan makhluk lain untuk berehat.
- "Wash-shamsi wa duhaha" — an oath by the sun and its morning brightness, the full light between sunrise and midday.
- "Wal-qamari idha talaha" — the moon follows the sun, receiving its light and reflecting it to the earth: a sign of the harmony of the solar system.
- "Wan-nahari idha jallaha" — the day reveals the sun to human sight, allowing life to proceed.
- "Wal-layli idha yaghshaha" — the night covers the sun, giving people and creatures the chance to rest.
وَالسَّمَاءِ وَمَا بَنَاهَا ٥
"Dan demi langit serta pembinaannya," — Asy-Syams 91:5
"And [by] the sky and He who constructed it" — Asy-Syams 91:5
وَالْأَرْضِ وَمَا طَحَاهَا ٦
"Dan demi bumi serta penghamparannya," — Asy-Syams 91:6
"And [by] the earth and He who spread it" — Asy-Syams 91:6
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ٧
"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)," — Asy-Syams 91:7
"And [by] the soul and He who proportioned it" — Asy-Syams 91:7
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ٨
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," — Asy-Syams 91:8
"And inspired it [with discernment of] its wickedness and its righteousness," — Asy-Syams 91:8
Ini adalah puncak tujuh sumpah. Sumpah kepada jiwa manusia (nafs) adalah yang paling penting kerana ia berkaitan langsung dengan jawapan kepada sumpah-sumpah tersebut. Allah menyempurnakan jiwa manusia dengan mengilhamkan dua jalan — jalan kefasikan (fujur) dan jalan ketakwaan (taqwa). Jiwa manusia dicipta dengan keupayaan semula jadi untuk membezakan antara baik dan buruk.
This is the climax of the oaths. The oath by the human soul is the most important because it relates directly to the answer: Allah perfected the soul and inspired it with two paths — wickedness (fujur) and righteousness (taqwa). The soul is created with an innate ability to distinguish good from evil.
3.2 Jawapan Sumpah — Tazkiyatun Nafs (Ayat 9–10)
3.2 The Answer to the Oaths — Purifying the Soul (Verses 9–10)
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ٩
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu," — Asy-Syams 91:9
"He has succeeded who purifies it," — Asy-Syams 91:9
وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا ١٠
"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." — Asy-Syams 91:10
"And he has failed who instils it [with corruption]." — Asy-Syams 91:10
Inilah jawapan kepada tujuh sumpah Allah. 'Qad aflaha man zakkaha' — berjaya dan beruntunglah siapa yang menyucikan jiwanya melalui taat kepada Allah, memurnikan akhlak dan menjauhkan diri daripada maksiat.
This is the answer to the oaths: "Qad aflaha man zakkaha" — successful is the one who purifies his soul through obedience to Allah, refining character and avoiding sin.
'Wa qad khaba man dassaha' — rugi dan celaka siapa yang mengotori jiwanya dengan dosa, kesombongan dan keingkaran. Kata 'dassaha' membawa makna menanam atau memendam sesuatu yang buruk — jiwa yang dikotori seolah-olah dikuburkan dalam kegelapan moral.
"Wa qad khaba man dassaha" — ruined is the one who corrupts his soul with sin, arrogance and rebellion. "Dassaha" carries the meaning of burying or concealing something bad — as if the corrupted soul is buried in moral darkness.
3.3 Kisah Kaum Thamud (Ayat 11–15)
3.3 The Story of Thamud (Verses 11–15)
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا ١١
"Kaum Thamud telah mendustakan (rasulnya) disebabkan kelampauan batas mereka," — Asy-Syams 91:11
"Thamud denied [their prophet] by reason of their transgression," — Asy-Syams 91:11
إِذِ انبَعَثَ أَشْقَاهَا ١٢
"Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka," — Asy-Syams 91:12
"When the most wretched of them was sent forth." — Asy-Syams 91:12
فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا ١٣
"Lalu Rasul Allah berkata kepada mereka: ‘(Biarkanlah) unta betina Allah itu dan minumannya.’" — Asy-Syams 91:13
"And the messenger of Allah [Salih] said to them, "[Do not harm] the she-camel of Allah or [prevent her from] her drink."" — Asy-Syams 91:13
فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا ١٤
"Namun mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu. Maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyamakan (mereka dengan tanah)," — Asy-Syams 91:14
"But they denied him and hamstrung her. So their Lord brought down upon them destruction for their sin and made it equal [upon all of them]." — Asy-Syams 91:14
وَلَا يَخَافُ عُقْبَاهَا ١٥
"Dan Allah tidak takut akan akibat (perbuatan-Nya) itu." — Asy-Syams 91:15
"And He does not fear the consequence thereof." — Asy-Syams 91:15
Allah kemudian mengambil kaum Thamud sebagai contoh umat yang mengotorkan jiwa kolektif mereka. Mereka mendustakan Nabi Salih a.s. dan membunuh unta Allah yang merupakan tanda (mukjizat) kebesaran-Nya. Akibatnya, Allah membinasakan seluruh kaum Thamud dengan azab yang menyeluruh.
Allah then takes Thamud as an example of a people who corrupted their collective soul: they denied the Prophet Salih and killed the she-camel of Allah, a sign of His greatness. As a result, Allah destroyed them with an all-encompassing punishment.
Kisah ini adalah peringatan keras: apabila suatu kaum secara kolektif menolak kebenaran dan melanggar batasan Allah, azab akan datang tanpa kelewatan dan tanpa pengecualian.
This story is a stern warning: when a people collectively reject the truth and transgress Allah's limits, punishment comes without delay and without exception.
Bahagian 4
Section 4
I'jaz Ilmi — Sains & Kesihatan
Quran & Science
4.1 Sains Matahari
4.1 The Science of the Sun
وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ١
"Demi matahari dan cahayanya pada waktu dhuha," — Asy-Syams 91:1
"By the sun and its brightness" — Asy-Syams 91:1
Al-Qur’an bersumpah dengan matahari dan cahayanya, dan sains moden membantu kita menghayati kebesaran ciptaan ini:
The Qur'an swears by the sun and its light, and modern science helps us appreciate the greatness of this creation:
☀ Fakta Sains: Matahari adalah bintang jenis G2V berukuran 1.4 juta kilometer diameternya — 109 kali diameter bumi.
Matahari menghasilkan tenaga melalui proses fusi nuklear — menggabungkan 600 juta tan hidrogen setiap saat menjadi helium, menghasilkan cahaya dan haba.
Cahaya matahari memerlukan masa 8 minit 20 saat untuk mencapai bumi — jarak 150 juta km.
Matahari telah berusia kira-kira 4.6 bilion tahun dan dijangka hidup selama 5 bilion tahun lagi.
Tiada kehidupan di bumi tanpa cahaya matahari — ia membolehkan fotosintesis, mengawal suhu bumi dan memacu kitaran hidrologi.
☀ Science: The sun is a G2V-type star about 1.4 million km in diameter — 109 times that of the earth.
It produces energy by nuclear fusion — converting about 600 million tonnes of hydrogen into helium every second.
Sunlight takes about 8 minutes 20 seconds to reach the earth, 150 million km away.
The sun is about 4.6 billion years old and expected to shine for another 5 billion years.
No life on earth exists without sunlight — it drives photosynthesis, regulates temperature and powers the water cycle.
4.2 Bulan Mengiringi Matahari
4.2 The Moon Following the Sun
وَالْقَمَرِ إِذَا تَلَاهَا ٢
"Dan demi bulan apabila mengiringinya (matahari)," — Asy-Syams 91:2
"And [by] the moon when it follows it" — Asy-Syams 91:2
Perkataan 'talaha' (تَلَاهَا) bermaksud mengikuti atau mengiringi. Ini menggambarkan hubungan sempurna antara bulan dan matahari secara saintifik:
"Talaha" means to follow or accompany — depicting the relationship between the moon and the sun:
🌙 Fakta Sains: Bulan tidak menghasilkan cahayanya sendiri — ia memantulkan cahaya matahari.
Bulan mengorbit bumi dalam masa 29.5 hari (kitaran sinodik) — menjadi asas kalendar Islam (Hijri).
Daya tarikan graviti bulan menyebabkan fenomena pasang surut laut yang kritikal bagi ekosistem pesisir.
Graviti bulan membantu menstabilkan kecondongan paksi bumi (sekitar 23.5°) daripada berubah-ubah secara melampau — membolehkan musim yang seimbang dan iklim yang stabil.
🌙 Science: The moon produces no light of its own — it reflects sunlight.
Its synodic cycle of about 29.5 days is the basis of the Islamic (Hijri) calendar.
The moon's gravity causes tides, vital to coastal ecosystems.
The moon's gravity helps stabilise the tilt of the earth's axis (about 23.5°) against extreme variation — allowing balanced seasons and a stable climate.
4.3 Psikologi & Neurologi Jiwa (Nafs)
4.3 The Psychology & Neurology of the Soul
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ٧
"Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)," — Asy-Syams 91:7
"And [by] the soul and He who proportioned it" — Asy-Syams 91:7
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ٨
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya," — Asy-Syams 91:8
"And inspired it [with discernment of] its wickedness and its righteousness," — Asy-Syams 91:8
🧠 Fakta Sains: Kajian neurosains mendapati manusia mempunyai 'moral intuition' yang semula jadi — bayi berumur 6 bulan sudah boleh membezakan antara 'penolong' dan 'penghalang' dalam eksperimen moral (Hamlin et al., 2007, Yale University).
Korteks prefrontal (bahagian depan otak) — pusat kawalan diri, empati dan pertimbangan moral — terus matang hingga sekitar awal usia 20-an. Ini menjelaskan mengapa Islam menekankan pembinaan akhlak sejak kecil.
Fitrah (sifat semula jadi manusia) yang disebutkan dalam hadis sahih boleh direnungkan bersama "moral foundations theory" oleh psikolog Jonathan Haidt (2012), yang mendapati asas-asas moral wujud merentasi budaya.
Kajian epigenetik: tabiat hidup seperti pemakanan, tekanan dan senaman boleh mempengaruhi ekspresi gen (bukan urutan DNA) — satu renungan bahawa pilihan hidup memberi kesan sebenar pada diri manusia.
🧠 Science: Infants as young as 6 months prefer "helpers" over "hinderers" in moral experiments (Hamlin, Wynn & Bloom, 2007, Yale University).
The prefrontal cortex — centre of self-control, empathy and moral judgement — continues to mature into the early twenties, which is why Islam stresses building character from childhood.
The innate nature (fitrah) mentioned in authentic hadith may be reflected upon alongside Jonathan Haidt's "moral foundations theory" (2012), which finds moral foundations across cultures.
Epigenetics: lifestyle factors such as diet, stress and exercise can influence gene expression (not the DNA sequence) — a reflection that life choices have real effects on a person.
4.4 Sejarah & Arkeologi Kaum Thamud
4.4 The History & Archaeology of Thamud
كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوَاهَا ١١
"Kaum Thamud telah mendustakan (rasulnya) disebabkan kelampauan batas mereka," — Asy-Syams 91:11
"Thamud denied [their prophet] by reason of their transgression," — Asy-Syams 91:11
Kaum Thamud adalah tamadun Arab purba yang hidup di Hijaz (kawasan Madain Salih / Al-Hijr, Arab Saudi). Rekod sejarah dan arkeologi menunjukkan kewujudan mereka:
Thamud were an ancient Arab people who lived in the Hijaz region (around al-Hijr / Mada'in Salih, Saudi Arabia). Historical and archaeological records indicate their existence:
🏛 Arkeologi: Tapak al-Hijr (Mada'in Salih) — kini Tapak Warisan Dunia UNESCO — terkenal dengan makam berukir pada batu pasir. Makam-makam yang kelihatan hari ini kebanyakannya dibina oleh kaum Nabatea (abad ke-1 Masihi), namun kawasan ini secara tradisional dikaitkan dengan kaum Thamud yang disebut dalam Al-Qur’an (Al-Hijr 15:80-82; Al-A‘raf 7:74).
Nama Thamud tercatat dalam rekod Assyria abad ke-8 SM dan sumber Yunani-Rom, manakala ribuan inskripsi purba (dikenali sebagai "Thamudik") ditemui di seluruh Semenanjung Arab.
Unta (Camelus dromedarius) di Semenanjung Arab adalah haiwan yang sangat dihormati — membunuh unta yang dilindungi adalah jenayah besar dalam budaya padang pasir.
Belum ada bukti geologi yang muktamad tentang bencana yang menimpa kaum Thamud — kisah azab mereka diimani berdasarkan wahyu Al-Qur’an.
🏛 Archaeology: Al-Hijr (Mada'in Salih), a UNESCO World Heritage Site, is famous for its tombs carved into sandstone. The tombs visible today were mostly built by the Nabataeans (1st century CE), but the area is traditionally associated with the Thamud mentioned in the Qur'an (Al-Hijr 15:80–82; Al-A'raf 7:74).
The name Thamud appears in Assyrian records of the 8th century BCE and in Greco-Roman sources, while thousands of ancient "Thamudic" inscriptions are found across the Arabian Peninsula.
The camel was a highly valued animal in Arabia — killing a protected camel was a grave crime in desert culture.
There is no conclusive geological evidence of the punishment that befell Thamud — their story is believed on the basis of Qur'anic revelation.
Bahagian 5
Section 5
Hadis Berkaitan
Related Hadith
Lima hadis sahih berikut berkaitan dengan tema Surah Asy-Syams — matahari, fitrah jiwa, doa penyucian jiwa dan dosa-dosa besar yang mengotori jiwa.
The following five authentic hadith relate to the themes of Surah Ash-Shams — the sun, the innate nature of the soul, supplications for purification and the major sins that corrupt the soul.
☾ Hadis 1 — Matahari Sujud di Bawah 'Arasy
☾ Hadith 1 — The Sun Prostrates beneath the Throne
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لأَبِي ذَرٍّ حِينَ غَرَبَتِ الشَّمْسُ " تَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ ". قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ " فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَسْتَأْذِنَ فَيُؤْذَنَ لَهَا، وَيُوشِكُ أَنْ تَسْجُدَ فَلاَ يُقْبَلَ مِنْهَا، وَتَسْتَأْذِنَ فَلاَ يُؤْذَنَ لَهَا، يُقَالُ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ. فَتَطْلُعُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى {وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ }".
Daripada Abu Dzar رضي الله عنه, beliau berkata:
Nabi ﷺ bersabda kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam:
“Tahukah kamu ke mana ia pergi?”
Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Baginda bersabda:
“Sesungguhnya ia pergi sehingga ia sujud di bawah ‘Arasy, lalu ia meminta izin (untuk terbit semula), maka diizinkan baginya.
Akan tiba suatu masa ia sujud tetapi tidak diterima daripadanya, dan ia meminta izin tetapi tidak diizinkan baginya. Dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah dari arah kamu datang.’
Maka ia pun terbit dari sebelah baratnya.
Itulah firman Allah Ta‘ala:
‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.’(Surah Yasin: 38)”
Abu Dharr said: The Prophet ﷺ said to me at sunset: "Do you know where it goes?" I said: "Allah and His Messenger know best." He said: "It goes until it prostrates beneath the Throne and asks permission (to rise again), and permission is given to it. A time is near when it will prostrate and it will not be accepted, and ask permission and it will not be given; it will be told: 'Return whence you came', and it will rise from the west. That is the saying of Allah: 'And the sun runs to its resting place; that is the decree of the Almighty, the All-Knowing' (Ya-Sin 36:38)."
Riwayat: Sahih al-Bukhari (3199) — Kitab Bad' al-Khalq
Sanad: Muhammad bin Yusuf → Sufyan → Al-A'masy → Ibrahim at-Taimi → his father → Abu Dzar RA
Narrated in: Sahih al-Bukhari (3199) — Book of the Beginning of Creation
Chain: Muhammad bin Yusuf → Sufyan → Al-A'masy → Ibrahim at-Taimi → his father → Abu Dzar RA
✔ Sahih (Muttafaqun ‘alaih)
☾ Hadis 2 — Setiap Anak Dilahirkan atas Fitrah
☾ Hadith 2 — Every Child Is Born upon the Fitrah
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، قَالَ ابْنُ شِهَابٍ يُصَلَّى عَلَى كُلِّ مَوْلُودٍ مُتَوَفًّى وَإِنْ كَانَ لِغَيَّةٍ، مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ وُلِدَ عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ، يَدَّعِي أَبَوَاهُ الإِسْلاَمَ أَوْ أَبُوهُ خَاصَّةً، وَإِنْ كَانَتْ أُمُّهُ عَلَى غَيْرِ الإِسْلاَمِ، إِذَا اسْتَهَلَّ صَارِخًا صُلِّيَ عَلَيْهِ، وَلاَ يُصَلَّى عَلَى مَنْ لاَ يَسْتَهِلُّ مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ سِقْطٌ، فَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ كَانَ يُحَدِّثُ قَالَ النَّبِيُّ ﷺ " مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ". ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه – {فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا} الآيَةَ.
Kemudian Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkan bahawa Nabi ﷺ bersabda:
“Tiada seorang bayi pun melainkan dilahirkan atas fitrah (Islam). Maka kedua ibu bapanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Sebagaimana seekor haiwan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu melihat padanya sebarang kecacatan (seperti terpotong telinganya)?”
Kemudian Abu Hurairah رضي الله عنه membaca firman Allah:
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu...”(Surah ar-Rum: 30)
Abu Hurairah reported that the Prophet ﷺ said: "Every child is born upon the fitrah; then his parents make him a Jew, a Christian or a Magian — just as an animal gives birth to a perfect young one; do you see any part of it cut off?" Then Abu Hurairah recited: "The fitrah of Allah upon which He created mankind…" (Ar-Rum 30:30).
Riwayat: Sahih al-Bukhari (1358) — Kitab al-Jana'iz
Sanad: Abu al-Yaman → Syu'aib → Ibn Syihab az-Zuhri → Abu Hurairah RA
Narrated in: Sahih al-Bukhari (1358) — Book of Funerals
Chain: Abu al-Yaman → Syu'aib → Ibn Syihab az-Zuhri → Abu Hurairah RA
✔ Sahih (Muttafaqun ‘alaih)
☾ Hadis 3 — Doa Penyucian Jiwa (Ayat 9)
☾ Hadith 3 — The Supplication for Purifying the Soul (Verse 9)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، - وَاللَّفْظُ لاِبْنِ نُمَيْرٍ - قَالَ إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآَخَرَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، وَعَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، قَالَ لاَ أَقُولُ لَكُمْ إِلاَّ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ كَانَ يَقُولُ " اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا " .
Daripada Zaid bin Arqam رضي الله عنه, beliau berkata:
“Aku tidak mengatakan kepada kamu melainkan sebagaimana yang pernah Rasulullah ﷺ katakan.” Baginda ﷺ biasa berdoa:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada sifat lemah dan malas,daripada sifat pengecut dan bakhil,daripada tua yang uzur (nyanyuk),dan daripada azab kubur.
Ya Allah, kurniakanlah kepada jiwaku ketakwaannya dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Tuannya.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada ilmu yang tidak bermanfaat,daripada hati yang tidak khusyuk,daripada jiwa yang tidak pernah puas,dan daripada doa yang tidak diperkenankan.”
Zaid ibn Arqam said: I only tell you what the Messenger of Allah ﷺ used to say: "O Allah, I seek refuge in You from incapacity, laziness, cowardice, miserliness, decrepitude and the punishment of the grave. O Allah, grant my soul its piety and purify it, for You are the best to purify it; You are its Guardian and Protector. O Allah, I seek refuge in You from knowledge that does not benefit, a heart that is not humble, a soul that is not satisfied, and a supplication that is not answered."
Riwayat: Sahih Muslim (2722) — Kitab adh-Dhikr wa ad-Du'a'
Sanad: Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaq bin Ibrahim & Ibn Numair → Abu Mu'awiyah → 'Asim → 'Abdullah bin al-Harith & Abu 'Uthman an-Nahdi → Zaid bin Arqam RA
Narrated in: Sahih Muslim (2722) — Book of Remembrance and Supplication
Chain: Abu Bakr bin Abi Syaibah, Ishaq bin Ibrahim & Ibn Numair → Abu Mu'awiyah → 'Asim → 'Abdullah bin al-Harith & Abu 'Uthman an-Nahdi → Zaid bin Arqam RA
✔ Sahih
☾ Hadis 4 — Doa Nabi ﷺ untuk Penyucian Jiwa
☾ Hadith 4 — The Prophet's ﷺ Supplication for the Soul
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي الْخَيْرِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلاَتِي. قَالَ " قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ".
Daripada Abu Bakr as-Siddiq رضي الله عنه, beliau berkata kepada Nabi ﷺ: “Ajarkan aku doa yang boleh aku ucapkan dalam solatku.” Baginda bersabda: “Ucapkanlah:
‘Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau. Maka ampunilah aku dengan keampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’
Abu Bakr as-Siddiq said to the Messenger of Allah ﷺ: "Teach me a supplication to say in my prayer." He said: "Say: O Allah, I have wronged myself greatly, and none forgives sins but You; so forgive me with forgiveness from You and have mercy on me. Indeed You are the Forgiving, the Merciful."
Riwayat: Sahih al-Bukhari (834) — Kitab al-Adhan
Sanad: Qutaibah bin Sa'id → Al-Laith → Yazid bin Abi Habib → Abu al-Khair → 'Abdullah bin 'Amr → Abu Bakr as-Siddiq RA
Narrated in: Sahih al-Bukhari (834) — Book of the Call to Prayer
Chain: Qutaibah bin Sa'id → Al-Laith → Yazid bin Abi Habib → Abu al-Khair → 'Abdullah bin 'Amr → Abu Bakr as-Siddiq RA
✔ Sahih (Muttafaqun ‘alaih — juga Muslim 2705)
☾ Hadis 5 — Dosa-Dosa Besar yang Mengotori Jiwa (Ayat 10)
☾ Hadith 5 — Major Sins That Corrupt the Soul (Verse 10)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ، أَخْبَرَنَا النَّضْرُ، أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا فِرَاسٌ، قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " الْكَبَائِرُ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ، وَقَتْلُ النَّفْسِ، وَالْيَمِينُ الْغَمُوسُ ".
Daripada Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما, daripada Nabi ﷺ, Baginda bersabda:
“Dosa-dosa besar ialah:
Syirik kepada Allah,
Derhaka kepada kedua ibu bapa,
Membunuh jiwa (tanpa hak),
Dan sumpah yang menjerumuskan (al-yamin al-ghamus).”
'Abdullah ibn 'Amr reported that the Prophet ﷺ said: "The major sins are: associating partners with Allah, disobedience to parents, killing a soul (unjustly), and the false oath (al-yamin al-ghamus)."
Riwayat: Sahih al-Bukhari (6675) — Kitab al-Aiman wa an-Nudhur
Sanad: Muhammad bin Muqatil → An-Nadr → Syu'bah → Firas → Asy-Sya'bi → 'Abdullah bin 'Amr RA
Narrated in: Sahih al-Bukhari (6675) — Book of Oaths and Vows
Chain: Muhammad bin Muqatil → An-Nadr → Syu'bah → Firas → Asy-Sya'bi → 'Abdullah bin 'Amr RA
✔ Sahih
Bahagian 6
Section 6
Panduan Amali Harian & Doa
Daily Practice & Supplication
Berdasarkan ajaran Surah Ash-Shams, berikut adalah amalan harian yang boleh dipraktikkan untuk menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs):
Based on the teachings of Surah Ash-Shams, here are daily practices for purifying the soul (tazkiyat an-nafs):
6.1 Amalan Pagi — Waktu Dhuha
6.1 Morning Practice — The Duha Time
- ① Solat Dhuha (2-12 rakaat) — waktu matahari naik setinggi lembing hingga tengah hari.
- ② Membaca Surah Ash-Shams ketika solat sebagai ingatan tentang tazkiyatun nafs.
- ③ Membaca doa: 'Allahumma aati nafsi taqwaha, wa zakkiha anta khayru man zakkaha.'
- ④ Merenung nikmat matahari dan mensyukuri ciptaan Allah yang sempurna.
- ① Pray Duha (2–12 rak'ahs) — from when the sun has risen a spear's height until before midday.
- ② Recite Surah Ash-Shams in prayer as a reminder of purifying the soul.
- ③ Say the supplication: "Allahumma ati nafsi taqwaha, wa zakkiha anta khayru man zakkaha."
- ④ Reflect on the blessing of the sun and give thanks for Allah's perfect creation.
6.2 Muhasabah Diri Harian
6.2 Daily Self-Reckoning
- ① Setiap malam sebelum tidur, tanya diri: 'Apakah aku hari ini telah menyucikan atau mengotorkan jiwaku?'
- ② Senaraikan 3 amalan baik yang dilakukan hari ini (tazkiyah).
- ③ Kenal pasti 1 perkara buruk yang perlu diperbaiki esok (da'wah 'ala nafs).
- ④ Istighfar 100 kali sebelum tidur — Nabi ﷺ melakukannya setiap hari.
- ① Each night before sleep, ask yourself: "Did I purify or corrupt my soul today?"
- ② List 3 good deeds done today (tazkiyah).
- ③ Identify 1 bad habit to improve tomorrow.
- ④ Seek forgiveness 100 times a day — the Prophet ﷺ did so daily.
6.3 Menghindari Sifat Kaum Thamud
6.3 Avoiding the Traits of Thamud
- ① Jangan mendustakan kebenaran walaupun bertentangan dengan nafsu.
- ② Hormati hak sesama manusia dan makhluk Allah — jangan menzalimi.
- ③ Jangan mengikuti pemimpin yang melakukan kezaliman — kisah 'aqara' (orang paling celaka) adalah peringatan.
- ④ Sentiasa bersyukur atas nikmat dan tidak melampaui batas (taghwa).
- ① Do not deny the truth even when it opposes your desires.
- ② Respect the rights of people and of Allah's creatures — do not oppress.
- ③ Do not follow leaders who commit injustice — the "most wretched" of verse 12 is a warning.
- ④ Always be grateful and do not transgress (taghwa).
6.4 Menerapkan Tazkiyatun Nafs
6.4 Applying the Purification of the Soul
- ① TAHALLI — Menghiasi jiwa dengan akhlak mulia: sabar, syukur, tawaduk, ikhlas.
- ② TAKHALLI — Mengosongkan jiwa daripada sifat buruk: hasad, riya', sombong, tamak.
- ③ TAJALLI — Merasai kehadiran Allah dalam setiap tindakan — inilah Ihsan.
- ④ Konsistensi adalah kunci — amalan kecil yang berterusan lebih disukai Allah daripada amalan besar yang sekali-sekali.
- ① TAHALLI — adorn the soul with noble character: patience, gratitude, humility, sincerity.
- ② TAKHALLI — empty the soul of blameworthy traits: envy, showing off, arrogance, greed.
- ③ TAJALLI — sense Allah's presence in every action — this is ihsan.
- ④ Consistency is key — small consistent deeds are more beloved to Allah than large occasional ones.
Doa Penutup
Closing Supplication
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ٱلنَّارِ ٢٠١
"Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka." — Al-Baqarah 2:201
"Our Lord, give us in this world [that which is] good and in the Hereafter [that which is] good and protect us from the punishment of the Fire." — Al-Baqarah 2:201
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا